Monday, June 12, 2006
Sunadi Hidup dari Sisa Peradaban
”DARIPADA hidup menjadi sampah, lebih baik hidup dari sampah." Demikian tutur lelaki kurus dan berambut panjang ini.
Ket Gambar : SUNADI (kiri) mengawasi dua pekerjanya yang sedang memasukkan kompos ke karung untuk dijual di Desa Tambi Lor, Kec. Sliyeg, Kab. Indramayu, Minggu (11/6). Dia sudah sembilan tahun hidup dengan cara mengelola sampah menjadi kompos yang semuanya dikerjakan secara mandiri. *AGUNG NUGROHO/"PR"
Siapakah dia? Dialah Sunadi (40), warga Desa Tambi Lor, Kec. Sliyeg, Kab. Indramayu.
Semboyannya sangat sederhana, sesederhana penampilannya. Semboyan itu selama sembilan tahun telah membentuk watak dan jati dirinya.
Sebelum mengolah sampah, lelaki beranak dua itu seorang pedagang. Dia juga dikenal sebagai pembuat onar. Bila kampungnya terlibat tawuran, dia selalu berada di garis depan menghunus senjata dan menyerang warga kampung lain yang menjadi seterunya.
Namun, sampah telah mengubah segalanya. Dari pedagang yang untungnya pas-pasan, kini hidupnya relatif jauh lebih baik. "Sampah telah mengubah hidup saya. Tak pernah bermimpi sebelumnya, kalau jalan hidup saya harus berakrab-akrab dengan sampah, kotoran atau kata orang disebut sebagai sisa peradaban," ujar Sunadi.
Berkat sampah pula, di kalangan pemerhati lingkungan, nama Sunadi cukup dikenal. Tahun 2002, pemuda Tambi itu meraih penghargaan Kalpataru tingkat Jabar, sebagai pemerhati lingkungan.
Kini, Sunadi masuk menjadi anggota di Forum Masyarakat Peduli Sampah (FMPS) Jabar yang bermarkas di Kota Bandung. Ribut-ribut soal sampah di Kota Bandung, lelaki ini sempat dimintai pandangannya saat pertemuan FMPS se-Jabar.
"Menurut saya, kelola saja menjadi kompos. Dengan begitu, dari yang tadinya limbah, malah bisa memberi nilai tambah. Cuma, memang harus serius, bukan cuma retorika," ujar dia, yang juga aktif di LSM lingkungan "Siklus" Indramayu.
Sunadi merintis usaha pengelolaan sampah mulai tahun 1997. Saat itu, dia bersama Dasma Adiwijaya (51), kakaknya yang menjadi sukarelawan di Dispertan Indramayu, mencoba banting setir dari dagang sayuran di Pasar Jatibarang, ke usaha pengelolaan sampah.
"Semua berawal dari coba-coba. Setiap hari saya melihat tumpukan sampah di pasar yang terbuang percuma. Kami juga melihat bahwa di Indramayu banyak limbah sekam padi dan kotoran ternak. Rasanya sangat sayang, semua terbuang begitu saja. Dari situ, kami lalu mencoba mengelola menjadi kompos," ujar Dasman.
Adik dan kakak itu mengawali pengelolaan sampah di atas sebidang tanah di bekas gudang lantai jemur di Jln. Raya Jatibarang-Karangampel. Berbekal pengetahuan terbatas soal pembuatan kompos, mereka memulai usaha, dari semula hanya 5 kuintal/tahun, hingga tahun 2005 produksi komposnya mencapai 200 ton. Sunadi yang memiliki kelompok usaha "Buana Tani", telah mempekerjakan 24 tenaga kerja dengan tugas menyortir sampah organik dan anorganik, pengumpul sekam, limbah parbik tahu, serta pencari kotoran ternak.
"Prosesnya sederhana. Sampah organik kita campur dan aduk dengan sekam bakar, limbah pabrik tahu, dan kotoran ternak. Dari sampah menjadi kompos dan kompos bokasi butuh waktu sampai 7 minggu," ujar Sunadi.
Promosi kurang
Dasma dan Sunadi optimis kalau kompos dan kompos bokasi merupakan pupuk masa depan. Tren pupuk kimia dari pabrik akan menurun, alternatifnya ialah kompos, yang sepenuhnya ramah lingkungan dan tidak menimbulkan efek pada lingkungan.
"Tadinya, produk kompos kami diujicobakan ke tanaman hias. Lama-lama ke tanaman padi, ternyata hasilnya sangat bagus. Kini kami memasok kompos ke sejumlah desa untuk demplot. Sawah yang memakai kompos kami, kualitas berasnya lebih bagus dan lebih pulen. Sekarang, beras yang pupuknya dari kompos kami, harganya bisa mencapai Rp 5.000,00/kg," ujar Sunadi.
Dalam perkembangannya, Sunadi dan Dasma juga memproduksi kompos yang kualitasnya lebih bagus, yakni kompos bokasi. Kompos bokasi dibuat setelah berhasil menciptakan mesin pengayak sampah sendiri yang dibuat dengan memanfaatkan besi-besi rongsokan. "Kalau kompos biasa harganya Rp 600,00/kg, untuk kompos bokasi Rp 800,00/kg. Produk kami tak hanya untuk tanaman, tambak udang dan bandeng ternyata juga membutuhkan. Hasilnya juga sangat bagus, termasuk saat kompos kami dipakai untuk pupuk tanaman bakau program penghijauan pesisir," ujar Dasma.
Kompos produksi Sunadi dan Dasma yang dikemas dengan karung bercap kata "Chipo" (Cinta Hayati Ingat pada Mikroorganisme), kini mulai dikenal luas oleh masyarakat, khususnya petani. Hanya, karena promosi kurang gencar, sehingga pangsa pasarnya belum terlalu luas, kecuali masih di sekitar Sliyeg, Jatibarang, Karangampel, dan sekitarnya.
Untuk promosi, Sunadi dan Dasma masih membutuhkan bantuan, terutama dari pemkab setempat yang dinilai kurang proaktif. "Untuk Indramayu saja, dengan potensi 110.000 ha, dibutuhkan ribuan ton kompos. Bahkan, kalau kompos telah memasyarakat, bukan tidak mungkin seluruh sampah di Indramayu bisa kami tampung. Kalau perlu, mengimpor sampah dari Kota Bandung," ujar Sunadi. (Agung Nugroho/"PR")***DocPR,June122005
”DARIPADA hidup menjadi sampah, lebih baik hidup dari sampah." Demikian tutur lelaki kurus dan berambut panjang ini.
Ket Gambar : SUNADI (kiri) mengawasi dua pekerjanya yang sedang memasukkan kompos ke karung untuk dijual di Desa Tambi Lor, Kec. Sliyeg, Kab. Indramayu, Minggu (11/6). Dia sudah sembilan tahun hidup dengan cara mengelola sampah menjadi kompos yang semuanya dikerjakan secara mandiri. *AGUNG NUGROHO/"PR"
Siapakah dia? Dialah Sunadi (40), warga Desa Tambi Lor, Kec. Sliyeg, Kab. Indramayu.
Semboyannya sangat sederhana, sesederhana penampilannya. Semboyan itu selama sembilan tahun telah membentuk watak dan jati dirinya.
Sebelum mengolah sampah, lelaki beranak dua itu seorang pedagang. Dia juga dikenal sebagai pembuat onar. Bila kampungnya terlibat tawuran, dia selalu berada di garis depan menghunus senjata dan menyerang warga kampung lain yang menjadi seterunya.
Namun, sampah telah mengubah segalanya. Dari pedagang yang untungnya pas-pasan, kini hidupnya relatif jauh lebih baik. "Sampah telah mengubah hidup saya. Tak pernah bermimpi sebelumnya, kalau jalan hidup saya harus berakrab-akrab dengan sampah, kotoran atau kata orang disebut sebagai sisa peradaban," ujar Sunadi.
Berkat sampah pula, di kalangan pemerhati lingkungan, nama Sunadi cukup dikenal. Tahun 2002, pemuda Tambi itu meraih penghargaan Kalpataru tingkat Jabar, sebagai pemerhati lingkungan.
Kini, Sunadi masuk menjadi anggota di Forum Masyarakat Peduli Sampah (FMPS) Jabar yang bermarkas di Kota Bandung. Ribut-ribut soal sampah di Kota Bandung, lelaki ini sempat dimintai pandangannya saat pertemuan FMPS se-Jabar.
"Menurut saya, kelola saja menjadi kompos. Dengan begitu, dari yang tadinya limbah, malah bisa memberi nilai tambah. Cuma, memang harus serius, bukan cuma retorika," ujar dia, yang juga aktif di LSM lingkungan "Siklus" Indramayu.
Sunadi merintis usaha pengelolaan sampah mulai tahun 1997. Saat itu, dia bersama Dasma Adiwijaya (51), kakaknya yang menjadi sukarelawan di Dispertan Indramayu, mencoba banting setir dari dagang sayuran di Pasar Jatibarang, ke usaha pengelolaan sampah.
"Semua berawal dari coba-coba. Setiap hari saya melihat tumpukan sampah di pasar yang terbuang percuma. Kami juga melihat bahwa di Indramayu banyak limbah sekam padi dan kotoran ternak. Rasanya sangat sayang, semua terbuang begitu saja. Dari situ, kami lalu mencoba mengelola menjadi kompos," ujar Dasman.
Adik dan kakak itu mengawali pengelolaan sampah di atas sebidang tanah di bekas gudang lantai jemur di Jln. Raya Jatibarang-Karangampel. Berbekal pengetahuan terbatas soal pembuatan kompos, mereka memulai usaha, dari semula hanya 5 kuintal/tahun, hingga tahun 2005 produksi komposnya mencapai 200 ton. Sunadi yang memiliki kelompok usaha "Buana Tani", telah mempekerjakan 24 tenaga kerja dengan tugas menyortir sampah organik dan anorganik, pengumpul sekam, limbah parbik tahu, serta pencari kotoran ternak.
"Prosesnya sederhana. Sampah organik kita campur dan aduk dengan sekam bakar, limbah pabrik tahu, dan kotoran ternak. Dari sampah menjadi kompos dan kompos bokasi butuh waktu sampai 7 minggu," ujar Sunadi.
Promosi kurang
Dasma dan Sunadi optimis kalau kompos dan kompos bokasi merupakan pupuk masa depan. Tren pupuk kimia dari pabrik akan menurun, alternatifnya ialah kompos, yang sepenuhnya ramah lingkungan dan tidak menimbulkan efek pada lingkungan.
"Tadinya, produk kompos kami diujicobakan ke tanaman hias. Lama-lama ke tanaman padi, ternyata hasilnya sangat bagus. Kini kami memasok kompos ke sejumlah desa untuk demplot. Sawah yang memakai kompos kami, kualitas berasnya lebih bagus dan lebih pulen. Sekarang, beras yang pupuknya dari kompos kami, harganya bisa mencapai Rp 5.000,00/kg," ujar Sunadi.
Dalam perkembangannya, Sunadi dan Dasma juga memproduksi kompos yang kualitasnya lebih bagus, yakni kompos bokasi. Kompos bokasi dibuat setelah berhasil menciptakan mesin pengayak sampah sendiri yang dibuat dengan memanfaatkan besi-besi rongsokan. "Kalau kompos biasa harganya Rp 600,00/kg, untuk kompos bokasi Rp 800,00/kg. Produk kami tak hanya untuk tanaman, tambak udang dan bandeng ternyata juga membutuhkan. Hasilnya juga sangat bagus, termasuk saat kompos kami dipakai untuk pupuk tanaman bakau program penghijauan pesisir," ujar Dasma.
Kompos produksi Sunadi dan Dasma yang dikemas dengan karung bercap kata "Chipo" (Cinta Hayati Ingat pada Mikroorganisme), kini mulai dikenal luas oleh masyarakat, khususnya petani. Hanya, karena promosi kurang gencar, sehingga pangsa pasarnya belum terlalu luas, kecuali masih di sekitar Sliyeg, Jatibarang, Karangampel, dan sekitarnya.
Untuk promosi, Sunadi dan Dasma masih membutuhkan bantuan, terutama dari pemkab setempat yang dinilai kurang proaktif. "Untuk Indramayu saja, dengan potensi 110.000 ha, dibutuhkan ribuan ton kompos. Bahkan, kalau kompos telah memasyarakat, bukan tidak mungkin seluruh sampah di Indramayu bisa kami tampung. Kalau perlu, mengimpor sampah dari Kota Bandung," ujar Sunadi. (Agung Nugroho/"PR")***DocPR,June122005