Thursday, June 15, 2006
terkotor apa boleh..
Kota Terkotor, Apa Boleh Buat...”APA boleh buat?” Ucapan itu meluncur dari Wali Kota Bandung Dada Rosada saat diminta tanggapannya soal penetapan Kota Bandung sebagai Kota Terkotor pada penganugerahan Adipura oleh Kementrian Lingkungan Hidup.
Ket Gambar : TUMPUKAN sampah terlihat di dekat persimpangan kantor DPRD Kota Bandung, Rabu (14/6). Karena banyaknya sampah yang menumpuk, Kota Bandung dianugerahi sebagai Kota Terkotor dari Kementerian Lingkungan Hidup.* RIRIN NUR FEBRIANI/”PR”
”Bandung itu sedang sakit karena sampah. Sama seperti bayi. Kalau bayi sakit diikutkan pada lomba balita sehat, da moal meunang kumaha oge,” kata Dada, usai acara penilaian lomba kelurahan tingkat Jabar di Kel. Sukamiskin, Rabu (14/6).
Dada menyayangkan, penilaian terhadap keadaan Kota Bandung tetap dilakukan meski sampahnya menumpuk.
”Saya kan menyatakan darurat sampah. Kalau ada penilaian, berarti dilombakan. Padahal, kita sedang darurat sampah. Sedang musibah,” katanya.
Dada juga menegaskan, keadaan Kota Bandung seperti sekarang tidak untuk ditertawakan.
”Kalau ada anak atau keluarga kita mendapat musibah, apakah pantas orang tuanya menertawakan sambil menyatakan rasain kena musibah? Kan tidak begitu harusnya.”
Agar tidak ada pihak yang menertawakan Kota Bandung lagi, Dada terus melakukan upaya pembersihan sampah di Kota Bandung. Pengangkutan sampah ke TPA Gedig terus dilakukan sejak pukul 11.00 WIB.
Salah satu kendala yang dihadapi, jumlah truk pengangkut sampah tidak memadai. Bantuan sebesar Rp 2,3 miliar dari Provinsi Jabar pun belum turun. “Kalau dananya tidak cepat turun, ya kita kesusahan juga,” kata Dada.
Kunjungan pejabat
Menumpuknya sampah menarik perhatian sejumlah kalangan pejabat pusat untuk mengunjungi Bandung, termasuk kunjungan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, sempat melakukan inspeksi mendadak ke TPS-TPS di Bandung. Terakhir, Rachmat datang bersama rombongan artis untuk meninjau kembali pelaksanaan penanganan sampah yang dilakukan Pemkot Bandung setelah diberi target penyelesaian selama tiga minggu.
Ginandjar Kartasasmita dan Sofyan Yahya beserta rombongan DPD RI lainnya juga datang untuk mencari informasi penyebab Kota Bandung mengalami musibah sampah. Mereka kembali datang ke Bandung dan meninjau ke lokasi TPA Gedig di Desa Sarimukti Kec. Cipatat Kab. Bandung, kemarin.
Namun, kunjungan para pejabat tidak membawa banyak perubahan. Upaya membersihkan Kota Bandung tetap dilakukan tapi tumpukan sampah masih ada di sejumlah lokasi.
Pengangkutan sampah di Kota Bandung baru mencapai 10 % dari 307.500 m3. Kondisi ini berbeda dengan Kota Cimahi yang tumpukan sampahnya sebanyak 5.600 m3 sudah terangkut semua. (Ririn/”PR”)***DocPRJune14,2006
Dada Rosada tak Tersinggung
BANDUNG, (PR).-Predikat kota terkotor bagi Kota Bandung ditanggapi skeptis oleh Wali Kota Dada Rosada. Menurut dia, kali ini Kota Bandung tidak bisa meraih penghargaan Adipura karena memang sedang mengalami permasalahan sampah. Namun Dada mengaku tidak kecewa atau tidak tersinggung oleh penobatan itu.
Ia mengatakan tidak bisa menolak sebutan atau predikat tersebut. "Gimana tidak menerima, itu kan hak yang menilai," ujarnya ketika ditemui seusai menerima rombongan Panitia Ad Hoc II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, di Balai Kota Bandung, Selasa (13/6).
Baginya, predikat kota terkotor tidak akan mengurangi upaya penanganan sampah yang terus dilakukannya. Wali kota mengatakan pihaknya tidak akan mengeluarkan pernyataan resmi atas penobatan itu. "Apa pengaruhnya? Yang penting kita berusaha sebaik mungkin," katanya.
Kendati demikian, Dada menganggap bahwa tidak semua sudut Kota Bandung itu kotor. Sebagai bukti, ia menunjukkan Balai Kota Bandung yang tampak bersih dan asri dan beberapa tempat yang sudah dibersihkan dari timbunan sampah.
Oleh karena itu, ia mengaku tidak merasa khawatir wisatawan urung berkunjung ke Bandung hanya gara-gara predikat itu. "Justru sekarang Bandung saat banyak sampah saja, hotel-hotel pada hari Kamis, Jumat, Sabtu, penuh terus," tuturnya.
Namun Ketua Komisi C DPRD Kota Bandung, Yod Mintaraga, sangat menyayangkan penobatan itu. Menurut dia, pemerintah pusat telah bertindak tidak adil karena mengikutsertakan Kota Bandung yang tengah "darurat sampah" dalam penilaian penghargaan Adipura.
Dalam kesempatan itu, Yod memohon agar DPD RI tidak bersikap seperti Menteri Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman dan Meneg Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar. Pernyataan dari kedua menteri tersebut tentang adanya korupsi di tubuh PD Kebersihan dan pemkot tidak profesional dan dianggapnya memperkeruh suasana. Menurut dia, seharusnya pada saat darurat seperti sekarang, semua pihak ikut saling membantu.
Menjawab hal itu, anggota PAH II DPD RI, K.H. Sofyan Yahya menyatakan dukungan atas langkah-langkah Pemkot Bandung. Ia berjanji akan menyampaikan aspirasi Pemkot Bandung terkait masalah sampah ke rapat Bappenas di Jakarta. "DPD tidak akan melihatnya dari sisi negatifnya saja. DPD senantiasa akan melihatnya dari sisi positif juga," katanya. (A-156)***DocPRJune14,2006
BANDUNG, (PR).-Predikat kota terkotor bagi Kota Bandung ditanggapi skeptis oleh Wali Kota Dada Rosada. Menurut dia, kali ini Kota Bandung tidak bisa meraih penghargaan Adipura karena memang sedang mengalami permasalahan sampah. Namun Dada mengaku tidak kecewa atau tidak tersinggung oleh penobatan itu.
Ia mengatakan tidak bisa menolak sebutan atau predikat tersebut. "Gimana tidak menerima, itu kan hak yang menilai," ujarnya ketika ditemui seusai menerima rombongan Panitia Ad Hoc II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, di Balai Kota Bandung, Selasa (13/6).
Baginya, predikat kota terkotor tidak akan mengurangi upaya penanganan sampah yang terus dilakukannya. Wali kota mengatakan pihaknya tidak akan mengeluarkan pernyataan resmi atas penobatan itu. "Apa pengaruhnya? Yang penting kita berusaha sebaik mungkin," katanya.
Kendati demikian, Dada menganggap bahwa tidak semua sudut Kota Bandung itu kotor. Sebagai bukti, ia menunjukkan Balai Kota Bandung yang tampak bersih dan asri dan beberapa tempat yang sudah dibersihkan dari timbunan sampah.
Oleh karena itu, ia mengaku tidak merasa khawatir wisatawan urung berkunjung ke Bandung hanya gara-gara predikat itu. "Justru sekarang Bandung saat banyak sampah saja, hotel-hotel pada hari Kamis, Jumat, Sabtu, penuh terus," tuturnya.
Namun Ketua Komisi C DPRD Kota Bandung, Yod Mintaraga, sangat menyayangkan penobatan itu. Menurut dia, pemerintah pusat telah bertindak tidak adil karena mengikutsertakan Kota Bandung yang tengah "darurat sampah" dalam penilaian penghargaan Adipura.
Dalam kesempatan itu, Yod memohon agar DPD RI tidak bersikap seperti Menteri Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman dan Meneg Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar. Pernyataan dari kedua menteri tersebut tentang adanya korupsi di tubuh PD Kebersihan dan pemkot tidak profesional dan dianggapnya memperkeruh suasana. Menurut dia, seharusnya pada saat darurat seperti sekarang, semua pihak ikut saling membantu.
Menjawab hal itu, anggota PAH II DPD RI, K.H. Sofyan Yahya menyatakan dukungan atas langkah-langkah Pemkot Bandung. Ia berjanji akan menyampaikan aspirasi Pemkot Bandung terkait masalah sampah ke rapat Bappenas di Jakarta. "DPD tidak akan melihatnya dari sisi negatifnya saja. DPD senantiasa akan melihatnya dari sisi positif juga," katanya. (A-156)***DocPRJune14,2006

Gaya Hidup Bersih
Mulailah dari Rumah
BERSIH pangkal sehat. Semboyan itu kita kenal sejak duduk di taman kanak-kanak. Mungkin kita masih ingat, betapa ibu/bapak guru berkali-kali mengingatkan pesan itu. Buanglah sampah pada tempatnya, juga merupakan kata-kata normatif dan idealis yang sering mereka lontarkan untuk mendoktrin kita supaya bergaya hidup bersih. Dan betapa kita selalu mengikuti ucapan mereka itu.
Akan tetapi, seberapa banyak dari kita yang kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, mungkin hanya 50 persennya. Sebab sekolah sebagai lembaga formal pendidikan, harus senantiasa didukung oleh pendidikan sejak dari rumah (keluarga sebagai institusi terkecil).
Ket Gambar : PEMILAHAN sampah sejak dari rumah tangga akan memudahkan petugas untuk mengolahanya jika sistem pengolahan sampah telah berjalan dengan baik. Pengolahan sampah memang harus dimulai dari rumah tangga, karena masalah persampahan di kota-kota besar, termasuk Bandung saat ini disebabkan terbatasnya lahan TPA sampah dan juga kurangnya transportasi pengangkut sampah.*DUDI SUGANDI/"PR"
Kebersihan yang diajarkan sejak usia dini di sekolah, harus didukung oleh peran orang tua di rumah agar mereka selalu mengingat dan menjadi terbiasa dengan gaya hidup yang bersih dan sehat.
Coba kita lihat kondisi saat ini, ketika bersih tidak lagi menjadi kewajiban yang harus dipenuhi dalam rumah, yang mendapat dampak terbesar adalah anak karena mereka rentan akan penyakit dan faktor negatif eksternal lainnya.
Seperti diberitakan "PR", Senin (12/6), wabah muntaber menyerang warga yang umumnya bayi di bawah usia dua tahun, yang tinggal di dua kecamatan yaitu Kecamatan Purwakarta dan Bungursari. Hingga Minggu (11/6) tercatat 10 bayi di bawah usia 2 tahun, dirawat di RSUD Bayu Asih Purwakarta.
Atas kasus ini, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Dr. Yudhi Prayudha menyebutkan, diare, muntaber, ataupun kolera, merupakan penyakit yang disebabkan virus, bakteri ataupun parasit yang timbul akibat tidak diterapkannya gaya hidup sehat ataupun gaya hidup bersih yang dimulai dari rumah.
Apa saja, sih, yang harus diperhatikan kebersihannya dalam rumah? Yang pertama, tentu saja lingkungan di dalam dan sekitar rumah. Selain itu tak kalah penting adalah pengolahan limbah sampah rumah tangga yang benar serta pengolahan sanitasi air, sehingga limbah rumah tangga bisa terolah dengan baik.
Dalam acara Diseminasi Hasil Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Permukiman di Pusat Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) di Cileunyi-Bandung beberapa waktu lalu, diperkenalkan beberapa teknologi ramah lingkungan dan sesuai dengan kebutuhan hidup masa kini.
"Kami selalu berusaha menghasilkan teknologi permukiman yang inovatif, aplikatif, kompetitif dan bermanfaat bagi masyarakat luas, termasuk produk-produk teknologi pendukung kebersihan dan kesehatan di lingkungan rumah," tutur Kepala Puslitbang Permukiman, Ir. Nana Terangna Ginting, Dipl.EST.
Beberapa produk teknologi tersebut antara lain komposter rumah tangga (KRT), kolam sanitasi taman (Sanita), dan ekoteknologi di selokan terbuka perumahan sebagai pengolah limbah rumah tangga grey water (nonkakus).
Pengolahan sampah memang harus dimulai dari rumah tangga, karena masalah persampahan di kota-kota besar, termasuk Bandung saat ini disebabkan terbatasnya lahan untuk tempat pengelolaan akhir (TPA) sampah dan juga kurangnya transportasi pengangkut sampah.
Oleh karena itu, KRT yang ditawarkan oleh Balitbang Permukiman ini, bisa menjadi salah satu solusinya. Pada dasarnya, teknologi KRT sudah diperkenalkan sejak tahun 90-an dan telah diterapkan di beberapa kota di Indonesia.
Hanya, gaung sosialisasinya kurang berhasil terdengar ke seluruh lapisan masyarakat, sehingga meledaknya kasus sampah saat ini bisa menjadi parameter ketidakberhasilan sosialisasi tersebut.
Padahal, cara membuat dan mengoperasikannya juga sangat mudah. Alat-alat untuk membuatnya juga murah dan mudah didapat, yaitu tong sampah yang terbuat dari plastik ukuran 100 liter, dan pipa PVC panjang 60 cm empat buah beserta tutup pipa PVC sesuai diameter pipa. yang dibolongi. KRT ini mampu mengolah sampah organik dapur 45 persen sampai 53 persen dari sampah rumah tangga.
Untuk membuat komposter tersebut, tong plastik dilubangi di sekelilingnya sebanyak empat buah lubang dengan diameter disesuaikan dengan diameter pipa PVC. Posisi lubang sekira 15 cm dari bagian atas tong.
Lubangi tong secara beraturan dengan diameter kurang lebih 1 cm dimulai dari posisi lubang untuk pipa hingga 10 cm di atas dasar tong. Pipanya juga dilubangi mendatar diameternya juga 1 cm, kemudian salah satu ujung ditutup dengan tutup pipa PVC.
Setelah tong dan pipa dilubangi kemudian pasangkan keempat pipa tersebut pada lubang yang telah dibuat sesuai ukuran pipa. Alat ini ditanamkan pada tanah, hingga hanya bagian atasnya yang terlihat untuk bisa membuang sampah.
Prinsip kerjanya sangat mudah. Pisahkan sampah organik dan non organik. Lalu buang sampah organik ke dalam komposter, kemudian ditutup. Lakukan sampai komposter penuh. Setelah penuh, tutup rapat-rapat kemudian biarkan selama empat hingga enam bulan, jangan pernah buka, sehingga penguraian bisa terjadi secara sempurna.
Mudah, kan?
Nah, sekarang untuk air limbah rumah tangga yang menurut agenda Indonesia 21 merupakan sumber utama pencemaran badan air mencapai 5.075 persen.
Dengan kondisi ini menyebabkan tidak tercapainya siklus alamiah. Dan tingginya kejadian wabah diare, muntaber, disentri dan kolera adalah juga disebabkan oleh sanitasi yang buruk. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif penyelesaian yang mempertimbangkan aspek ekologi, salah satunya dengan sistem sanitasi taman (sanita).
Sanita ini diartikan sebagai sistem sanitasi berkelanjutan dan ekonomis memenuhi faktor ekologis sebagai pengunaan kembali tinja manusia dan urine yang telah tersanitasi dikembalikan ke tanah sebagai pupuk organik/nutrien (closed-loop system) yang berarti menjaga siklus ekologi dalam proses sanitasi.
Tujuannya adalah mengendalikan limbah cair rumah tangga agar tidak mencemari badan air atau lingkungan serta memperbaiki kualitas air tanah, air permukaan, dan kesuburan tanah melalui alternatif pengolahan sistem ekosan.
Kolam sanita ini, digunakan di lingkungan perumahan. Artinya, air limbah rumah tangga dari tiap rumah dialirkan ke kolam tersebut. Sistem pengelolaannya melibatkan seluruh masyarakat. Oleh karena itu, perlu kesadaran dari tiap anggota masyarakat untuk membuat dan mengelola kolam tersebut.
Kolam sanita terdiri dari pipa inlet, pipa outlet, kerikil, tanaman air minimal 11 macam dalam satu kolam, dan tentu saja, sumber air limbah rumah tangga. Kolam ini mampu mereduksi faecal coliform bakteri hingga 98 persen, dan total nitrogen phospat hingga 6.575 persen, sehingga mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Dan untuk air limbah rumah tangga nonkakus (grey water) seperti buangan dari kamar mandi, dapur yang mengandung sisa makanan, dari tempat cuci yang dihasilkan setiap saat. Hampir di sebagian besar kompleks perumahan, grey water dibuang langsung ke selokan tanpa diolah terlebih dahulu.
Dekomposisi grey water, menimbulkan bau tak sedap ke lingkungan dan bisa mencemari tanah. Salah satu alternatif mengatasi grey water yaitu dengan menanami selokan depan rumah dengan aneka jenis tanaman hias air yang dapat menyerap zat pencemar. Tentu saja dengan adanya tanaman di sekitar selokan akan menambah nilai estetika rumah kita.
Tanaman-tanaman yang bisa digunakan antara lain, Jaringao, Pontederia Cordata (Bunga Ungu), Lidi Air, Futoy Ruas, Typha Angustifolia (Bunga Coklat), Melati Air, dan Lili Air.
Cara membuatnya, bersihkan selokan grey water depan rumah, siapkan kantung kasa nilon yang disesuaikan dengan lebar selokan sebagai dudukan dan kemudahan ganti posisi letak tanaman. Isikan tanaman dalam kantung kasa nilon, lalu masukkan dalam selokan. Selain bersih dan sehat, rumah pun menjadi indah dan sedap dipandang. (Feby Syarifah/"PR")***DocPRJune13,2006
BERSIH pangkal sehat. Semboyan itu kita kenal sejak duduk di taman kanak-kanak. Mungkin kita masih ingat, betapa ibu/bapak guru berkali-kali mengingatkan pesan itu. Buanglah sampah pada tempatnya, juga merupakan kata-kata normatif dan idealis yang sering mereka lontarkan untuk mendoktrin kita supaya bergaya hidup bersih. Dan betapa kita selalu mengikuti ucapan mereka itu.
Akan tetapi, seberapa banyak dari kita yang kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, mungkin hanya 50 persennya. Sebab sekolah sebagai lembaga formal pendidikan, harus senantiasa didukung oleh pendidikan sejak dari rumah (keluarga sebagai institusi terkecil).
Ket Gambar : PEMILAHAN sampah sejak dari rumah tangga akan memudahkan petugas untuk mengolahanya jika sistem pengolahan sampah telah berjalan dengan baik. Pengolahan sampah memang harus dimulai dari rumah tangga, karena masalah persampahan di kota-kota besar, termasuk Bandung saat ini disebabkan terbatasnya lahan TPA sampah dan juga kurangnya transportasi pengangkut sampah.*DUDI SUGANDI/"PR"
Kebersihan yang diajarkan sejak usia dini di sekolah, harus didukung oleh peran orang tua di rumah agar mereka selalu mengingat dan menjadi terbiasa dengan gaya hidup yang bersih dan sehat.
Coba kita lihat kondisi saat ini, ketika bersih tidak lagi menjadi kewajiban yang harus dipenuhi dalam rumah, yang mendapat dampak terbesar adalah anak karena mereka rentan akan penyakit dan faktor negatif eksternal lainnya.
Seperti diberitakan "PR", Senin (12/6), wabah muntaber menyerang warga yang umumnya bayi di bawah usia dua tahun, yang tinggal di dua kecamatan yaitu Kecamatan Purwakarta dan Bungursari. Hingga Minggu (11/6) tercatat 10 bayi di bawah usia 2 tahun, dirawat di RSUD Bayu Asih Purwakarta.
Atas kasus ini, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Dr. Yudhi Prayudha menyebutkan, diare, muntaber, ataupun kolera, merupakan penyakit yang disebabkan virus, bakteri ataupun parasit yang timbul akibat tidak diterapkannya gaya hidup sehat ataupun gaya hidup bersih yang dimulai dari rumah.
Apa saja, sih, yang harus diperhatikan kebersihannya dalam rumah? Yang pertama, tentu saja lingkungan di dalam dan sekitar rumah. Selain itu tak kalah penting adalah pengolahan limbah sampah rumah tangga yang benar serta pengolahan sanitasi air, sehingga limbah rumah tangga bisa terolah dengan baik.
Dalam acara Diseminasi Hasil Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Permukiman di Pusat Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) di Cileunyi-Bandung beberapa waktu lalu, diperkenalkan beberapa teknologi ramah lingkungan dan sesuai dengan kebutuhan hidup masa kini.
"Kami selalu berusaha menghasilkan teknologi permukiman yang inovatif, aplikatif, kompetitif dan bermanfaat bagi masyarakat luas, termasuk produk-produk teknologi pendukung kebersihan dan kesehatan di lingkungan rumah," tutur Kepala Puslitbang Permukiman, Ir. Nana Terangna Ginting, Dipl.EST.
Beberapa produk teknologi tersebut antara lain komposter rumah tangga (KRT), kolam sanitasi taman (Sanita), dan ekoteknologi di selokan terbuka perumahan sebagai pengolah limbah rumah tangga grey water (nonkakus).
Pengolahan sampah memang harus dimulai dari rumah tangga, karena masalah persampahan di kota-kota besar, termasuk Bandung saat ini disebabkan terbatasnya lahan untuk tempat pengelolaan akhir (TPA) sampah dan juga kurangnya transportasi pengangkut sampah.
Oleh karena itu, KRT yang ditawarkan oleh Balitbang Permukiman ini, bisa menjadi salah satu solusinya. Pada dasarnya, teknologi KRT sudah diperkenalkan sejak tahun 90-an dan telah diterapkan di beberapa kota di Indonesia.
Hanya, gaung sosialisasinya kurang berhasil terdengar ke seluruh lapisan masyarakat, sehingga meledaknya kasus sampah saat ini bisa menjadi parameter ketidakberhasilan sosialisasi tersebut.
Padahal, cara membuat dan mengoperasikannya juga sangat mudah. Alat-alat untuk membuatnya juga murah dan mudah didapat, yaitu tong sampah yang terbuat dari plastik ukuran 100 liter, dan pipa PVC panjang 60 cm empat buah beserta tutup pipa PVC sesuai diameter pipa. yang dibolongi. KRT ini mampu mengolah sampah organik dapur 45 persen sampai 53 persen dari sampah rumah tangga.
Untuk membuat komposter tersebut, tong plastik dilubangi di sekelilingnya sebanyak empat buah lubang dengan diameter disesuaikan dengan diameter pipa PVC. Posisi lubang sekira 15 cm dari bagian atas tong.
Lubangi tong secara beraturan dengan diameter kurang lebih 1 cm dimulai dari posisi lubang untuk pipa hingga 10 cm di atas dasar tong. Pipanya juga dilubangi mendatar diameternya juga 1 cm, kemudian salah satu ujung ditutup dengan tutup pipa PVC.
Setelah tong dan pipa dilubangi kemudian pasangkan keempat pipa tersebut pada lubang yang telah dibuat sesuai ukuran pipa. Alat ini ditanamkan pada tanah, hingga hanya bagian atasnya yang terlihat untuk bisa membuang sampah.
Prinsip kerjanya sangat mudah. Pisahkan sampah organik dan non organik. Lalu buang sampah organik ke dalam komposter, kemudian ditutup. Lakukan sampai komposter penuh. Setelah penuh, tutup rapat-rapat kemudian biarkan selama empat hingga enam bulan, jangan pernah buka, sehingga penguraian bisa terjadi secara sempurna.
Mudah, kan?
Nah, sekarang untuk air limbah rumah tangga yang menurut agenda Indonesia 21 merupakan sumber utama pencemaran badan air mencapai 5.075 persen.
Dengan kondisi ini menyebabkan tidak tercapainya siklus alamiah. Dan tingginya kejadian wabah diare, muntaber, disentri dan kolera adalah juga disebabkan oleh sanitasi yang buruk. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif penyelesaian yang mempertimbangkan aspek ekologi, salah satunya dengan sistem sanitasi taman (sanita).
Sanita ini diartikan sebagai sistem sanitasi berkelanjutan dan ekonomis memenuhi faktor ekologis sebagai pengunaan kembali tinja manusia dan urine yang telah tersanitasi dikembalikan ke tanah sebagai pupuk organik/nutrien (closed-loop system) yang berarti menjaga siklus ekologi dalam proses sanitasi.
Tujuannya adalah mengendalikan limbah cair rumah tangga agar tidak mencemari badan air atau lingkungan serta memperbaiki kualitas air tanah, air permukaan, dan kesuburan tanah melalui alternatif pengolahan sistem ekosan.
Kolam sanita ini, digunakan di lingkungan perumahan. Artinya, air limbah rumah tangga dari tiap rumah dialirkan ke kolam tersebut. Sistem pengelolaannya melibatkan seluruh masyarakat. Oleh karena itu, perlu kesadaran dari tiap anggota masyarakat untuk membuat dan mengelola kolam tersebut.
Kolam sanita terdiri dari pipa inlet, pipa outlet, kerikil, tanaman air minimal 11 macam dalam satu kolam, dan tentu saja, sumber air limbah rumah tangga. Kolam ini mampu mereduksi faecal coliform bakteri hingga 98 persen, dan total nitrogen phospat hingga 6.575 persen, sehingga mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Dan untuk air limbah rumah tangga nonkakus (grey water) seperti buangan dari kamar mandi, dapur yang mengandung sisa makanan, dari tempat cuci yang dihasilkan setiap saat. Hampir di sebagian besar kompleks perumahan, grey water dibuang langsung ke selokan tanpa diolah terlebih dahulu.
Dekomposisi grey water, menimbulkan bau tak sedap ke lingkungan dan bisa mencemari tanah. Salah satu alternatif mengatasi grey water yaitu dengan menanami selokan depan rumah dengan aneka jenis tanaman hias air yang dapat menyerap zat pencemar. Tentu saja dengan adanya tanaman di sekitar selokan akan menambah nilai estetika rumah kita.
Tanaman-tanaman yang bisa digunakan antara lain, Jaringao, Pontederia Cordata (Bunga Ungu), Lidi Air, Futoy Ruas, Typha Angustifolia (Bunga Coklat), Melati Air, dan Lili Air.
Cara membuatnya, bersihkan selokan grey water depan rumah, siapkan kantung kasa nilon yang disesuaikan dengan lebar selokan sebagai dudukan dan kemudahan ganti posisi letak tanaman. Isikan tanaman dalam kantung kasa nilon, lalu masukkan dalam selokan. Selain bersih dan sehat, rumah pun menjadi indah dan sedap dipandang. (Feby Syarifah/"PR")***DocPRJune13,2006
terkotor nih....!
Kota Bandung & Bekasi Metropolitan Terkotor
JAKARTA, (PR).-Kota Bandung dan Bekasi, diyatakan sebagai kota terkotor dalam kategori kota metropolitan. Sedangkan, kota terkotor kategori kota besar disandang Kota Banjarmasin dan Kabupaten Tangerang. Demikian terungkap dalam acara Malam Anugerah Penghargaan Lingkungan dan Adipura di Hotel Shangri-la Jakarta, Senin (12/6) malam.
Wapres M. Jusuf Kalla yang hadir dalam malam anugerah itu menuturkan, hidup manusia bergantung pada lingkungan. Oleh karena itu, segala upaya untuk memperbaiki lingkungan harus dihargai dan sebaliknya upaya yang tidak maksimal perlu didorong.
Malam anugerah penghargaan lingkungan dan Adipura dimeriahkan sejumlah artis, antara lain Indy Barens, Tasya, Didi Petet, Slank, dan dua artis yang menjadi duta lingkungan, yaitu Ahmad Dani dan Marshanda.
Sementara itu, empat kota kabupaten di Jawa Barat, yaitu Garut, Singaparna Tasikmalaya, Indramayu, dan Purwakarta berhasil meraih Piagam Adipura kategori kota kecil. Namun, tidak satu pun wakil Jawa Barat yang meraih Piala "Anugerah Adipura" maupun "Penghargaan Kalpataru" tahun 2006.
Dalam "Anugerah Adipura" tahun 2006, Senin (12/6), tercatat 45 kota meraih Piala Adipura. Untuk penghargaan Kalpataru, diberikan kepada 11 orang.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan Piala Adipura dan penghargaan Kalpataru, di Istana Negara, Jakarta. Hadir antara lain Ketua DPR Agung Laksono, Ketua MA Bagir Manan, Meneg Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Menhub Hatta Rajasa, Menhut M.S. Kaban, dan Seskab Sudi Silalahi.
Penghargaan Kalpataru kategori Perintis Lingkungan diberikan kepada Samuel Ngongo Lewu, dari Desa Tenggaba, Kec. Wewewa Timur Kab. Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), H. Abidin Moestakim dari Desa/Kec. Kayangan, Kab. Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Wayan Sutiari Mastoer, dari Kel. Rungkut Kidul, Surabaya, Jatim.
Kategori Pengabdi Lingkungan, diberikan kepada Salim dari Pulau Pramuka Kel. Pulau Panggang, Kec. Kepulauan Seribu Utara, DKI Jakarta, dan Agusdin, Kel. Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara Kaltim.
Kategori Penyelamat Lingkungan diberikan kepada "Komunitas Anak Dalam Air Hitam Bukit Dua Belas", Desa Pematang Kabau Kec. Air Hitam Kab. Sarolangun Prov. Jambi, Kelompok Tani "Murakapi" dari Desa Jabung, Kec. Panekan, Kab. Magetan Jawa Timur, dan Klub Pecinta Alam "Hirosi", Desa Hinekombe, Kec. Sentani, Jayapura.
Kota-kota penerima Piala Anugerah Adipura 2006 untuk ketegori kota metropolitan adalah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Surabaya, Medan, dan Semarang. Untuk kota besar adalah Pekanbaru, Padang, Denpasar, dan Balikpapan.
Kategori kota sedang, Bengkulu, Blitar, Curup, Gorontalo, Gresik, Jepara, Jombang, Lumajang, Madiun, Mataram, Palopo, Pare-pare, Payakumbuh, Pematang Siantar, Tanjung Pinang, dan Tulungagung.
Kategori kota kecil, penghargaan Adipura diberikan kepada Kab. Bangli, Kab. Gianyar, Amlapura, Argamakmur, Kab. Kolaka, Semarapura, Kab. Sragen, Kota Padang Panjang, Singaraja, Kotabumi, Kab. Tabanan, Kab. Badung, Kalianda, Kab. Boyolali, Kab. Muara Enim, Sungai Liat, Sekayu, dan Kab. Magetan.
Peraih piagam Adipura, selain empat kota kecil dari Jawa Barat, adalah Pasuruan, Pamekasan, Bangkalan, Lampung Utara, Lampung Selatan, Boyolali, serta untuk kota sedang Tarakan dan Tulungagung.
Presiden juga menilai, masih banyak pemerintah daerah (pemda) yang belum baik dalam upaya pengelolaan sampah seperti yang terjadi di Bandung. Presiden berharap para gubernur, bupati, dan wali kota bisa menangani sampah secara sungguh-sungguh, terencana, dan terkendali. (A-94)*** DocPRJune312006
JAKARTA, (PR).-Kota Bandung dan Bekasi, diyatakan sebagai kota terkotor dalam kategori kota metropolitan. Sedangkan, kota terkotor kategori kota besar disandang Kota Banjarmasin dan Kabupaten Tangerang. Demikian terungkap dalam acara Malam Anugerah Penghargaan Lingkungan dan Adipura di Hotel Shangri-la Jakarta, Senin (12/6) malam.
Wapres M. Jusuf Kalla yang hadir dalam malam anugerah itu menuturkan, hidup manusia bergantung pada lingkungan. Oleh karena itu, segala upaya untuk memperbaiki lingkungan harus dihargai dan sebaliknya upaya yang tidak maksimal perlu didorong.
Malam anugerah penghargaan lingkungan dan Adipura dimeriahkan sejumlah artis, antara lain Indy Barens, Tasya, Didi Petet, Slank, dan dua artis yang menjadi duta lingkungan, yaitu Ahmad Dani dan Marshanda.
Sementara itu, empat kota kabupaten di Jawa Barat, yaitu Garut, Singaparna Tasikmalaya, Indramayu, dan Purwakarta berhasil meraih Piagam Adipura kategori kota kecil. Namun, tidak satu pun wakil Jawa Barat yang meraih Piala "Anugerah Adipura" maupun "Penghargaan Kalpataru" tahun 2006.
Dalam "Anugerah Adipura" tahun 2006, Senin (12/6), tercatat 45 kota meraih Piala Adipura. Untuk penghargaan Kalpataru, diberikan kepada 11 orang.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan Piala Adipura dan penghargaan Kalpataru, di Istana Negara, Jakarta. Hadir antara lain Ketua DPR Agung Laksono, Ketua MA Bagir Manan, Meneg Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Menhub Hatta Rajasa, Menhut M.S. Kaban, dan Seskab Sudi Silalahi.
Penghargaan Kalpataru kategori Perintis Lingkungan diberikan kepada Samuel Ngongo Lewu, dari Desa Tenggaba, Kec. Wewewa Timur Kab. Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), H. Abidin Moestakim dari Desa/Kec. Kayangan, Kab. Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Wayan Sutiari Mastoer, dari Kel. Rungkut Kidul, Surabaya, Jatim.
Kategori Pengabdi Lingkungan, diberikan kepada Salim dari Pulau Pramuka Kel. Pulau Panggang, Kec. Kepulauan Seribu Utara, DKI Jakarta, dan Agusdin, Kel. Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara Kaltim.
Kategori Penyelamat Lingkungan diberikan kepada "Komunitas Anak Dalam Air Hitam Bukit Dua Belas", Desa Pematang Kabau Kec. Air Hitam Kab. Sarolangun Prov. Jambi, Kelompok Tani "Murakapi" dari Desa Jabung, Kec. Panekan, Kab. Magetan Jawa Timur, dan Klub Pecinta Alam "Hirosi", Desa Hinekombe, Kec. Sentani, Jayapura.
Kota-kota penerima Piala Anugerah Adipura 2006 untuk ketegori kota metropolitan adalah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Surabaya, Medan, dan Semarang. Untuk kota besar adalah Pekanbaru, Padang, Denpasar, dan Balikpapan.
Kategori kota sedang, Bengkulu, Blitar, Curup, Gorontalo, Gresik, Jepara, Jombang, Lumajang, Madiun, Mataram, Palopo, Pare-pare, Payakumbuh, Pematang Siantar, Tanjung Pinang, dan Tulungagung.
Kategori kota kecil, penghargaan Adipura diberikan kepada Kab. Bangli, Kab. Gianyar, Amlapura, Argamakmur, Kab. Kolaka, Semarapura, Kab. Sragen, Kota Padang Panjang, Singaraja, Kotabumi, Kab. Tabanan, Kab. Badung, Kalianda, Kab. Boyolali, Kab. Muara Enim, Sungai Liat, Sekayu, dan Kab. Magetan.
Peraih piagam Adipura, selain empat kota kecil dari Jawa Barat, adalah Pasuruan, Pamekasan, Bangkalan, Lampung Utara, Lampung Selatan, Boyolali, serta untuk kota sedang Tarakan dan Tulungagung.
Presiden juga menilai, masih banyak pemerintah daerah (pemda) yang belum baik dalam upaya pengelolaan sampah seperti yang terjadi di Bandung. Presiden berharap para gubernur, bupati, dan wali kota bisa menangani sampah secara sungguh-sungguh, terencana, dan terkendali. (A-94)*** DocPRJune312006
Monday, June 12, 2006
Sunadi Hidup dari Sisa Peradaban
”DARIPADA hidup menjadi sampah, lebih baik hidup dari sampah." Demikian tutur lelaki kurus dan berambut panjang ini.
Ket Gambar : SUNADI (kiri) mengawasi dua pekerjanya yang sedang memasukkan kompos ke karung untuk dijual di Desa Tambi Lor, Kec. Sliyeg, Kab. Indramayu, Minggu (11/6). Dia sudah sembilan tahun hidup dengan cara mengelola sampah menjadi kompos yang semuanya dikerjakan secara mandiri. *AGUNG NUGROHO/"PR"
Siapakah dia? Dialah Sunadi (40), warga Desa Tambi Lor, Kec. Sliyeg, Kab. Indramayu.
Semboyannya sangat sederhana, sesederhana penampilannya. Semboyan itu selama sembilan tahun telah membentuk watak dan jati dirinya.
Sebelum mengolah sampah, lelaki beranak dua itu seorang pedagang. Dia juga dikenal sebagai pembuat onar. Bila kampungnya terlibat tawuran, dia selalu berada di garis depan menghunus senjata dan menyerang warga kampung lain yang menjadi seterunya.
Namun, sampah telah mengubah segalanya. Dari pedagang yang untungnya pas-pasan, kini hidupnya relatif jauh lebih baik. "Sampah telah mengubah hidup saya. Tak pernah bermimpi sebelumnya, kalau jalan hidup saya harus berakrab-akrab dengan sampah, kotoran atau kata orang disebut sebagai sisa peradaban," ujar Sunadi.
Berkat sampah pula, di kalangan pemerhati lingkungan, nama Sunadi cukup dikenal. Tahun 2002, pemuda Tambi itu meraih penghargaan Kalpataru tingkat Jabar, sebagai pemerhati lingkungan.
Kini, Sunadi masuk menjadi anggota di Forum Masyarakat Peduli Sampah (FMPS) Jabar yang bermarkas di Kota Bandung. Ribut-ribut soal sampah di Kota Bandung, lelaki ini sempat dimintai pandangannya saat pertemuan FMPS se-Jabar.
"Menurut saya, kelola saja menjadi kompos. Dengan begitu, dari yang tadinya limbah, malah bisa memberi nilai tambah. Cuma, memang harus serius, bukan cuma retorika," ujar dia, yang juga aktif di LSM lingkungan "Siklus" Indramayu.
Sunadi merintis usaha pengelolaan sampah mulai tahun 1997. Saat itu, dia bersama Dasma Adiwijaya (51), kakaknya yang menjadi sukarelawan di Dispertan Indramayu, mencoba banting setir dari dagang sayuran di Pasar Jatibarang, ke usaha pengelolaan sampah.
"Semua berawal dari coba-coba. Setiap hari saya melihat tumpukan sampah di pasar yang terbuang percuma. Kami juga melihat bahwa di Indramayu banyak limbah sekam padi dan kotoran ternak. Rasanya sangat sayang, semua terbuang begitu saja. Dari situ, kami lalu mencoba mengelola menjadi kompos," ujar Dasman.
Adik dan kakak itu mengawali pengelolaan sampah di atas sebidang tanah di bekas gudang lantai jemur di Jln. Raya Jatibarang-Karangampel. Berbekal pengetahuan terbatas soal pembuatan kompos, mereka memulai usaha, dari semula hanya 5 kuintal/tahun, hingga tahun 2005 produksi komposnya mencapai 200 ton. Sunadi yang memiliki kelompok usaha "Buana Tani", telah mempekerjakan 24 tenaga kerja dengan tugas menyortir sampah organik dan anorganik, pengumpul sekam, limbah parbik tahu, serta pencari kotoran ternak.
"Prosesnya sederhana. Sampah organik kita campur dan aduk dengan sekam bakar, limbah pabrik tahu, dan kotoran ternak. Dari sampah menjadi kompos dan kompos bokasi butuh waktu sampai 7 minggu," ujar Sunadi.
Promosi kurang
Dasma dan Sunadi optimis kalau kompos dan kompos bokasi merupakan pupuk masa depan. Tren pupuk kimia dari pabrik akan menurun, alternatifnya ialah kompos, yang sepenuhnya ramah lingkungan dan tidak menimbulkan efek pada lingkungan.
"Tadinya, produk kompos kami diujicobakan ke tanaman hias. Lama-lama ke tanaman padi, ternyata hasilnya sangat bagus. Kini kami memasok kompos ke sejumlah desa untuk demplot. Sawah yang memakai kompos kami, kualitas berasnya lebih bagus dan lebih pulen. Sekarang, beras yang pupuknya dari kompos kami, harganya bisa mencapai Rp 5.000,00/kg," ujar Sunadi.
Dalam perkembangannya, Sunadi dan Dasma juga memproduksi kompos yang kualitasnya lebih bagus, yakni kompos bokasi. Kompos bokasi dibuat setelah berhasil menciptakan mesin pengayak sampah sendiri yang dibuat dengan memanfaatkan besi-besi rongsokan. "Kalau kompos biasa harganya Rp 600,00/kg, untuk kompos bokasi Rp 800,00/kg. Produk kami tak hanya untuk tanaman, tambak udang dan bandeng ternyata juga membutuhkan. Hasilnya juga sangat bagus, termasuk saat kompos kami dipakai untuk pupuk tanaman bakau program penghijauan pesisir," ujar Dasma.
Kompos produksi Sunadi dan Dasma yang dikemas dengan karung bercap kata "Chipo" (Cinta Hayati Ingat pada Mikroorganisme), kini mulai dikenal luas oleh masyarakat, khususnya petani. Hanya, karena promosi kurang gencar, sehingga pangsa pasarnya belum terlalu luas, kecuali masih di sekitar Sliyeg, Jatibarang, Karangampel, dan sekitarnya.
Untuk promosi, Sunadi dan Dasma masih membutuhkan bantuan, terutama dari pemkab setempat yang dinilai kurang proaktif. "Untuk Indramayu saja, dengan potensi 110.000 ha, dibutuhkan ribuan ton kompos. Bahkan, kalau kompos telah memasyarakat, bukan tidak mungkin seluruh sampah di Indramayu bisa kami tampung. Kalau perlu, mengimpor sampah dari Kota Bandung," ujar Sunadi. (Agung Nugroho/"PR")***DocPR,June122005
”DARIPADA hidup menjadi sampah, lebih baik hidup dari sampah." Demikian tutur lelaki kurus dan berambut panjang ini.
Ket Gambar : SUNADI (kiri) mengawasi dua pekerjanya yang sedang memasukkan kompos ke karung untuk dijual di Desa Tambi Lor, Kec. Sliyeg, Kab. Indramayu, Minggu (11/6). Dia sudah sembilan tahun hidup dengan cara mengelola sampah menjadi kompos yang semuanya dikerjakan secara mandiri. *AGUNG NUGROHO/"PR"
Siapakah dia? Dialah Sunadi (40), warga Desa Tambi Lor, Kec. Sliyeg, Kab. Indramayu.
Semboyannya sangat sederhana, sesederhana penampilannya. Semboyan itu selama sembilan tahun telah membentuk watak dan jati dirinya.
Sebelum mengolah sampah, lelaki beranak dua itu seorang pedagang. Dia juga dikenal sebagai pembuat onar. Bila kampungnya terlibat tawuran, dia selalu berada di garis depan menghunus senjata dan menyerang warga kampung lain yang menjadi seterunya.
Namun, sampah telah mengubah segalanya. Dari pedagang yang untungnya pas-pasan, kini hidupnya relatif jauh lebih baik. "Sampah telah mengubah hidup saya. Tak pernah bermimpi sebelumnya, kalau jalan hidup saya harus berakrab-akrab dengan sampah, kotoran atau kata orang disebut sebagai sisa peradaban," ujar Sunadi.
Berkat sampah pula, di kalangan pemerhati lingkungan, nama Sunadi cukup dikenal. Tahun 2002, pemuda Tambi itu meraih penghargaan Kalpataru tingkat Jabar, sebagai pemerhati lingkungan.
Kini, Sunadi masuk menjadi anggota di Forum Masyarakat Peduli Sampah (FMPS) Jabar yang bermarkas di Kota Bandung. Ribut-ribut soal sampah di Kota Bandung, lelaki ini sempat dimintai pandangannya saat pertemuan FMPS se-Jabar.
"Menurut saya, kelola saja menjadi kompos. Dengan begitu, dari yang tadinya limbah, malah bisa memberi nilai tambah. Cuma, memang harus serius, bukan cuma retorika," ujar dia, yang juga aktif di LSM lingkungan "Siklus" Indramayu.
Sunadi merintis usaha pengelolaan sampah mulai tahun 1997. Saat itu, dia bersama Dasma Adiwijaya (51), kakaknya yang menjadi sukarelawan di Dispertan Indramayu, mencoba banting setir dari dagang sayuran di Pasar Jatibarang, ke usaha pengelolaan sampah.
"Semua berawal dari coba-coba. Setiap hari saya melihat tumpukan sampah di pasar yang terbuang percuma. Kami juga melihat bahwa di Indramayu banyak limbah sekam padi dan kotoran ternak. Rasanya sangat sayang, semua terbuang begitu saja. Dari situ, kami lalu mencoba mengelola menjadi kompos," ujar Dasman.
Adik dan kakak itu mengawali pengelolaan sampah di atas sebidang tanah di bekas gudang lantai jemur di Jln. Raya Jatibarang-Karangampel. Berbekal pengetahuan terbatas soal pembuatan kompos, mereka memulai usaha, dari semula hanya 5 kuintal/tahun, hingga tahun 2005 produksi komposnya mencapai 200 ton. Sunadi yang memiliki kelompok usaha "Buana Tani", telah mempekerjakan 24 tenaga kerja dengan tugas menyortir sampah organik dan anorganik, pengumpul sekam, limbah parbik tahu, serta pencari kotoran ternak.
"Prosesnya sederhana. Sampah organik kita campur dan aduk dengan sekam bakar, limbah pabrik tahu, dan kotoran ternak. Dari sampah menjadi kompos dan kompos bokasi butuh waktu sampai 7 minggu," ujar Sunadi.
Promosi kurang
Dasma dan Sunadi optimis kalau kompos dan kompos bokasi merupakan pupuk masa depan. Tren pupuk kimia dari pabrik akan menurun, alternatifnya ialah kompos, yang sepenuhnya ramah lingkungan dan tidak menimbulkan efek pada lingkungan.
"Tadinya, produk kompos kami diujicobakan ke tanaman hias. Lama-lama ke tanaman padi, ternyata hasilnya sangat bagus. Kini kami memasok kompos ke sejumlah desa untuk demplot. Sawah yang memakai kompos kami, kualitas berasnya lebih bagus dan lebih pulen. Sekarang, beras yang pupuknya dari kompos kami, harganya bisa mencapai Rp 5.000,00/kg," ujar Sunadi.
Dalam perkembangannya, Sunadi dan Dasma juga memproduksi kompos yang kualitasnya lebih bagus, yakni kompos bokasi. Kompos bokasi dibuat setelah berhasil menciptakan mesin pengayak sampah sendiri yang dibuat dengan memanfaatkan besi-besi rongsokan. "Kalau kompos biasa harganya Rp 600,00/kg, untuk kompos bokasi Rp 800,00/kg. Produk kami tak hanya untuk tanaman, tambak udang dan bandeng ternyata juga membutuhkan. Hasilnya juga sangat bagus, termasuk saat kompos kami dipakai untuk pupuk tanaman bakau program penghijauan pesisir," ujar Dasma.
Kompos produksi Sunadi dan Dasma yang dikemas dengan karung bercap kata "Chipo" (Cinta Hayati Ingat pada Mikroorganisme), kini mulai dikenal luas oleh masyarakat, khususnya petani. Hanya, karena promosi kurang gencar, sehingga pangsa pasarnya belum terlalu luas, kecuali masih di sekitar Sliyeg, Jatibarang, Karangampel, dan sekitarnya.
Untuk promosi, Sunadi dan Dasma masih membutuhkan bantuan, terutama dari pemkab setempat yang dinilai kurang proaktif. "Untuk Indramayu saja, dengan potensi 110.000 ha, dibutuhkan ribuan ton kompos. Bahkan, kalau kompos telah memasyarakat, bukan tidak mungkin seluruh sampah di Indramayu bisa kami tampung. Kalau perlu, mengimpor sampah dari Kota Bandung," ujar Sunadi. (Agung Nugroho/"PR")***DocPR,June122005
Sunday, June 11, 2006
Berburu Kompos
SATU pagi saya pergi ke Tani Sugih, toko alat pertanian di Jalan Pasteur. Gara-garanya, saya membaca pamflet mesin pengolah sampah yang mencantumkan toko itu sebagai retailer. Saya pikir, inilah kesempatan untuk menjadi warga Bandung yang baik, yang berusaha proaktif menangani masalah sampah yang semakin tidak masuk akal ini.
Penjaga toko itu menggelengkan kepala ketika saya menanyakan keberadaan mesin pengolah sampah. Tidak ada, katanya. Tidak pernah jual. Lalu saya menanyakan wadah untuk pengomposan. Tidak ada juga, katanya. Lalu saya menanyakan toko sejenis lainnya di Bandung Raya ini. Tidak ada yang lain, katanya lagi. Dia lalu menunjukkan iklan produsen alat-alat tani di majalah Trubus, semua beralamatkan di Bogor.
Spontan saya berujar, "Yang punya masalah sampah kan Bandung, kok yang jualan malah Bogor?" Respons yang saya dapat berikutnya adalah senyum asam.
Pulanglah saya gemas dan penasaran. Target saya hari itu adalah berburu info tentang kompos. Perburuan diawali lewat internet dengan kata kunci antara lain: pengolahan-sampah-wadah-kompos. Membanjirlah puluhan ribu artikel. Dalam satu hari, excitement saya pada kompos berubah menjadi exhaustion. Lelah mata, dan lelah hati, karena ternyata sudah sangat banyak orang yang peduli, punya ide, punya metode, tapi dalam keseharian tidak saya rasakan gaung itu. Tidak di jalan - yang masih berhiaskan sampah di sana-sini. Tidak juga di media massa - tenggelam dalam berita politik, kriminal, bencana, dan gosip artis. Tidak juga di toko Tani Sugih.
Saya jadi berpikir, apa yang salah? Mengapa masalah sampah, meski tercium bau busuknya, kita pelototi gunungannya, kita gerutukan setiap hari, tetap tidak cukup untuk mengubah prioritas kita - monster konsumtif yang cuma tahu beli, pakai, buang, tanpa berpikir semua itu akan menikam kita balik dengan timbunan kebusukan. Kita terus berlindung di balik ketidakacuhan, di balik truk kuning yang akan mengangkut sampah kita ke satu tempat yang tak terlihat.
Untungnya satu nama keluar. Saya temukan perusahaan di Jalan Pungkur yang menjual wadah pengomposan. SATU. Dengan kata kunci "composting bins" saya menemukan ratusan produsen di luar negeri yang memproduksi barang sama dengan aneka warna dan model elegan. Bukti bahwa Indonesia memang tertinggal tiga abad dalam masalah penanganan sampah. Land-filling adalah metode buang sampah Eropa abad 18. Hari ini, masyarakat Eropa sudah punya aneka pilihan composting bin yang lucu-lucu. Bandung, setidaknya hasil perburuan saya, hanya punya satu. Sisanya adalah land-filling yang sudah putus asa dan tak tahu malu.
Kota Bandung pada ulang tahunnya mengadakan lomba merangkai bunga. Saya curiga yang punya ide mabuk halusinogen dan merasa Bandung ini masih Kota Kembang, atau terjebak di mesin waktu lalu mendarat di Parijs Van Java. Kenapa bukannya mengadakan lomba mendesain wadah pengomposan? Atau lomba pengolahan sampah? Tidakkah itu lebih realistis dan berguna? Supaya kita punya banyak sarana dan pilihan untuk berbuat sesuatu, supaya yang tinggal di rumah susun maupun rumah ala Victorian bisa menyesuaikan composting bin dengan kemampuan dan selera estetika masing-masing. Dan yang lebih penting lagi, masyarakat tahu bahwa pemerintah kota ini berupaya mencerdaskan mereka, dan bukan malah mendua dengan rangkaian bunga di satu sisi dan gunung sampah di sisi lain.
Sulit untuk menyerukan cinta lingkungan apabila kita, siapa pun dan apa pun jabatan kita, tidak melaksanakan apa yang kita imbau sendiri. Sebaliknya, akan lebih mudah bagi masyarakat jika para pimpinan mereka maju dan mencontohkan bagaimana cara mengolah sampah di rumahnya terlebih dulu.
Seharian itu saya lalu berkhayal. Bandung betulan jadi bermartabat. Mengakui kesalahannya, lalu memperbaikinya. Kota ini bukan cuma jadi tempat orang Jakarta menghabiskan uang di factory outlet. Kota ini diacak-acak bukan hanya demi sekotak brownies kukus atau pisang keju. Namun kota ini menghasilkan produk-produk ekologis yang praktis dan terpakai oleh seluruh lapisan masyarakat. Karena meski overdosis toko baju, kota ini masih punya harta sesungguhnya: seniman-seniman yang jenius dan kreatif, para pemikir dari ITB, LIPI, Unpad, dsb.
Untuk beban moral sepotong artikel ini saja, saya harus melakukan perburuan sengit, dan akhirnya mendaftarkan diri ikut pelatihan membuat kompos. Saya pun tersadar, untuk menjadi warga yang baik, seringnya bukan kemudahan dan insentif yang didapat, melainkan usaha yang ekstra keras.
Tapi apakah itu setimpal? Saya pikir, iya.
Perbuatan konkretlah yang menjadikan seseorang, atau sebuah kota, bermartabat. Bukan slogan. Bukan jumlah gedung mewah. Bukan jajanan lezat. Suka tak suka, sampah telah menawarkan pilihan pada Bandung: membusuk bersamanya di jalan raya, atau bermetamorfosa menjadi kompos di perut Bumi Pertiwi. (Dewi "Dee" Lestari, doc PRjune11'06)
Penulis, artis dan novelis.
SATU pagi saya pergi ke Tani Sugih, toko alat pertanian di Jalan Pasteur. Gara-garanya, saya membaca pamflet mesin pengolah sampah yang mencantumkan toko itu sebagai retailer. Saya pikir, inilah kesempatan untuk menjadi warga Bandung yang baik, yang berusaha proaktif menangani masalah sampah yang semakin tidak masuk akal ini.
Penjaga toko itu menggelengkan kepala ketika saya menanyakan keberadaan mesin pengolah sampah. Tidak ada, katanya. Tidak pernah jual. Lalu saya menanyakan wadah untuk pengomposan. Tidak ada juga, katanya. Lalu saya menanyakan toko sejenis lainnya di Bandung Raya ini. Tidak ada yang lain, katanya lagi. Dia lalu menunjukkan iklan produsen alat-alat tani di majalah Trubus, semua beralamatkan di Bogor.
Spontan saya berujar, "Yang punya masalah sampah kan Bandung, kok yang jualan malah Bogor?" Respons yang saya dapat berikutnya adalah senyum asam.
Pulanglah saya gemas dan penasaran. Target saya hari itu adalah berburu info tentang kompos. Perburuan diawali lewat internet dengan kata kunci antara lain: pengolahan-sampah-wadah-kompos. Membanjirlah puluhan ribu artikel. Dalam satu hari, excitement saya pada kompos berubah menjadi exhaustion. Lelah mata, dan lelah hati, karena ternyata sudah sangat banyak orang yang peduli, punya ide, punya metode, tapi dalam keseharian tidak saya rasakan gaung itu. Tidak di jalan - yang masih berhiaskan sampah di sana-sini. Tidak juga di media massa - tenggelam dalam berita politik, kriminal, bencana, dan gosip artis. Tidak juga di toko Tani Sugih.
Saya jadi berpikir, apa yang salah? Mengapa masalah sampah, meski tercium bau busuknya, kita pelototi gunungannya, kita gerutukan setiap hari, tetap tidak cukup untuk mengubah prioritas kita - monster konsumtif yang cuma tahu beli, pakai, buang, tanpa berpikir semua itu akan menikam kita balik dengan timbunan kebusukan. Kita terus berlindung di balik ketidakacuhan, di balik truk kuning yang akan mengangkut sampah kita ke satu tempat yang tak terlihat.
Untungnya satu nama keluar. Saya temukan perusahaan di Jalan Pungkur yang menjual wadah pengomposan. SATU. Dengan kata kunci "composting bins" saya menemukan ratusan produsen di luar negeri yang memproduksi barang sama dengan aneka warna dan model elegan. Bukti bahwa Indonesia memang tertinggal tiga abad dalam masalah penanganan sampah. Land-filling adalah metode buang sampah Eropa abad 18. Hari ini, masyarakat Eropa sudah punya aneka pilihan composting bin yang lucu-lucu. Bandung, setidaknya hasil perburuan saya, hanya punya satu. Sisanya adalah land-filling yang sudah putus asa dan tak tahu malu.
Kota Bandung pada ulang tahunnya mengadakan lomba merangkai bunga. Saya curiga yang punya ide mabuk halusinogen dan merasa Bandung ini masih Kota Kembang, atau terjebak di mesin waktu lalu mendarat di Parijs Van Java. Kenapa bukannya mengadakan lomba mendesain wadah pengomposan? Atau lomba pengolahan sampah? Tidakkah itu lebih realistis dan berguna? Supaya kita punya banyak sarana dan pilihan untuk berbuat sesuatu, supaya yang tinggal di rumah susun maupun rumah ala Victorian bisa menyesuaikan composting bin dengan kemampuan dan selera estetika masing-masing. Dan yang lebih penting lagi, masyarakat tahu bahwa pemerintah kota ini berupaya mencerdaskan mereka, dan bukan malah mendua dengan rangkaian bunga di satu sisi dan gunung sampah di sisi lain.
Sulit untuk menyerukan cinta lingkungan apabila kita, siapa pun dan apa pun jabatan kita, tidak melaksanakan apa yang kita imbau sendiri. Sebaliknya, akan lebih mudah bagi masyarakat jika para pimpinan mereka maju dan mencontohkan bagaimana cara mengolah sampah di rumahnya terlebih dulu.
Seharian itu saya lalu berkhayal. Bandung betulan jadi bermartabat. Mengakui kesalahannya, lalu memperbaikinya. Kota ini bukan cuma jadi tempat orang Jakarta menghabiskan uang di factory outlet. Kota ini diacak-acak bukan hanya demi sekotak brownies kukus atau pisang keju. Namun kota ini menghasilkan produk-produk ekologis yang praktis dan terpakai oleh seluruh lapisan masyarakat. Karena meski overdosis toko baju, kota ini masih punya harta sesungguhnya: seniman-seniman yang jenius dan kreatif, para pemikir dari ITB, LIPI, Unpad, dsb.
Untuk beban moral sepotong artikel ini saja, saya harus melakukan perburuan sengit, dan akhirnya mendaftarkan diri ikut pelatihan membuat kompos. Saya pun tersadar, untuk menjadi warga yang baik, seringnya bukan kemudahan dan insentif yang didapat, melainkan usaha yang ekstra keras.
Tapi apakah itu setimpal? Saya pikir, iya.
Perbuatan konkretlah yang menjadikan seseorang, atau sebuah kota, bermartabat. Bukan slogan. Bukan jumlah gedung mewah. Bukan jajanan lezat. Suka tak suka, sampah telah menawarkan pilihan pada Bandung: membusuk bersamanya di jalan raya, atau bermetamorfosa menjadi kompos di perut Bumi Pertiwi. (Dewi "Dee" Lestari, doc PRjune11'06)
Penulis, artis dan novelis.
Sunday, June 04, 2006
Greenpeace
Greenpeace Siap Menampung Hasil Olahannya
Atasi Sampah dengan Mikroba
SUDAH saatnya Kota Bandung memikirkan penanganan sampah yang solutif, menyelesaikan masalah, bukan ”teknik” gali lubang tutup lubang. Ada EATAD (Enchanced Autogencus Thermophillic Aerobic Digestion), proses pengolahan sampah organik menggunakan mikroba responsif. Tawaran tersebut datang dari Mier Komar (58), seorang pelukis.
Ket Gambar : MIER Komara memperlihatkan skema proses pengolahan sampah menggunakan mikroba responsif di kediamannya Jln. Hegar Asih II Kota Bandung, Rabu (31/5).*HAZMIRULLAH/"PR"
”Saya kira, apa yang dilakukan pemerintah saat ini bukanlah solusi. Cuma memindahkan masalah. Soalnya, sampah dipandang harus dibuang. Padahal, sampah bisa dimanfaatkan, dan yang penting, bisa menguntungkan,” ungkapnya ketika ditemui di kediamannya, Jln. Hegar Asih II Cipaganti Kota Bandung, Rabu (31/5).
Kendati demikian, pemanfaatan sampah bukan tanpa kendala. Sebagai contoh adalah proses pengomposan di TPA Pasirimpun yang terkendala pemasaran. ”Kalaupun bisa dipasarkan secara luas, apakah bisa dijamin produsen pupuk tidak ngoceak? Begitupun ketika sampah dijadikan biogas untuk pembangkit listrik. Apakah PLN rela?” katanya.
Mier menjamin tidak ada pihak yang dirugikan ketika EATAD dilakukan di Kota Bandung. Soalnya, hasil olahan berupa pupuk padat dan bisa diekspor ke Kanada. ”Greenpeace sudah menyatakan siap menampung hasil olahan itu, setidaknya untuk 20 tahun mendatang. Hanya saja, Greenpeace cuma menerima produk hasil EATAD,” ujar Mier.
Pemerintah tak perlu menyediakan lahan yang luas untuk ini. Lima hektare cukup. Empat hektare digunakan untuk ”pabrik” pengolahan sampah, dilengkapi tabung-tabung besar layaknya kilang minyak. Sementara, sehektare lagi digunakan untuk kebun uji coba hasil olahan.
”Tapi, yang diolah dalam hal ini adalah sampah organik. Sementara, sampah nonorganik menjadi hak pemulung sepenuhnya. Berdasarkan survei, 70 persen sampah di Kota Bandung adalah sampah organik, dan setelah diteliti masuk dalam kategori yang dibutuhkan Greenpeace,” ucap Mier.
Soal proses kerja, sampah organik dimasukkan ke dalam macerator untuk dipilah kemudian dilumatkan. Sampah nonorganik kecil, seperti plastik, kerikil, beling, pasir, dan jarum, dibuang. Sementara, sampah organik diolah melalui proses aerasi di dalam shearator. ”Kemudian, dilakukan fermentasi primer dan sekunder di dalam digester. Masuk ke dalam filter press, lalu lumpur dan cairan dipisahkan. Lumpur masuk ke dyer sedangkan cairan masuk ke settler. Proses terakhir, lumpur mengalami pelletizing, sedangkan cairan mengalami proses evaporasi,” demikian Mier Komara.
Akan tetapi, untuk menggunakan teknologi ini, pemerintah mesti merogoh kocek agak dalam. Soalnya, harga satu set ”pabrik” itu tak kurang dari Rp 225 miliar. ”Tapi, dalam 3 tahun lebih sedikit, modal yang dikeluarkan sudah bisa kembali. Masalah sampah selesai, kita mendapat keuntungan. Kan begitu? Namun, hingga kini, pemerintah sepertinya tidak tertarik menggunakan teknologi ini. Padahal, kami sudah menawarkannya sejak tahun 2002, jauh sebelum Leuwigajah longsor,” katanya.
Sebagai informasi, PD Kebersihan Kota Bandung berpendapatan Rp 28,5 miliar setiap tahun (dari retribusi dan kucuran dana pemerintah). Pendapatan tersebut kemudian dikurangi beragam biaya, seperti BBM, upah pegawai, dan biaya perawatan kendaraan. ”Untuk BBM, semula PD Kebersihan menganggarkan Rp 430 juta setiap bulan. Tapi, setelah kenaikan BBM yang mencapai 105%, biaya membengkak menjadi Rp 1,02 miliar,” ujar Sefrianus Yosef, Kepala Bagian Humas dan Hukum PD Kebersihan Kota Bandung, beberapa waktu lalu.
Pendapatan tersebut juga dipergunakan untuk mengupah 1.680 karyawan. Setiap bulan, untuk urusan ini, PD Kebersihan menghabiskan dana kurang lebih Rp 900 juta. Pengeluaran lainnya adalah untuk perawatan 77 unit kendaraan yang mayoritas berusia tua. Rata-rata keluaran tahun 1985.
Celakanya, pendapatan PD Kebersihan dari retribusi cenderung menurun, terutama untuk rumah tinggal. Hal itu berlangsung sejak PLN bekerja sama dengan kantor pos dan bank untuk pembayaran iuran penggunaan listrik. ”Soalnya, di sana, retribusi sampah tidak ditagih. Alhasil, dari 400.000 pelanggan listrik se-Kota Bandung, hanya 57% uang retribusi yang didapat. Jumlahnya bervariasi, Rp 2.500,00 hingga Rp 7.500,00, sesuai dengan pemakaian daya listrik. Ya, kira-kira Rp 560 jutaan, dapatlah setiap bulan,” demikian Yosef. (Hazmirullah/ ”PR”) docPRJune04,2006
Atasi Sampah dengan Mikroba
SUDAH saatnya Kota Bandung memikirkan penanganan sampah yang solutif, menyelesaikan masalah, bukan ”teknik” gali lubang tutup lubang. Ada EATAD (Enchanced Autogencus Thermophillic Aerobic Digestion), proses pengolahan sampah organik menggunakan mikroba responsif. Tawaran tersebut datang dari Mier Komar (58), seorang pelukis.
Ket Gambar : MIER Komara memperlihatkan skema proses pengolahan sampah menggunakan mikroba responsif di kediamannya Jln. Hegar Asih II Kota Bandung, Rabu (31/5).*HAZMIRULLAH/"PR"
”Saya kira, apa yang dilakukan pemerintah saat ini bukanlah solusi. Cuma memindahkan masalah. Soalnya, sampah dipandang harus dibuang. Padahal, sampah bisa dimanfaatkan, dan yang penting, bisa menguntungkan,” ungkapnya ketika ditemui di kediamannya, Jln. Hegar Asih II Cipaganti Kota Bandung, Rabu (31/5).
Kendati demikian, pemanfaatan sampah bukan tanpa kendala. Sebagai contoh adalah proses pengomposan di TPA Pasirimpun yang terkendala pemasaran. ”Kalaupun bisa dipasarkan secara luas, apakah bisa dijamin produsen pupuk tidak ngoceak? Begitupun ketika sampah dijadikan biogas untuk pembangkit listrik. Apakah PLN rela?” katanya.
Mier menjamin tidak ada pihak yang dirugikan ketika EATAD dilakukan di Kota Bandung. Soalnya, hasil olahan berupa pupuk padat dan bisa diekspor ke Kanada. ”Greenpeace sudah menyatakan siap menampung hasil olahan itu, setidaknya untuk 20 tahun mendatang. Hanya saja, Greenpeace cuma menerima produk hasil EATAD,” ujar Mier.
Pemerintah tak perlu menyediakan lahan yang luas untuk ini. Lima hektare cukup. Empat hektare digunakan untuk ”pabrik” pengolahan sampah, dilengkapi tabung-tabung besar layaknya kilang minyak. Sementara, sehektare lagi digunakan untuk kebun uji coba hasil olahan.
”Tapi, yang diolah dalam hal ini adalah sampah organik. Sementara, sampah nonorganik menjadi hak pemulung sepenuhnya. Berdasarkan survei, 70 persen sampah di Kota Bandung adalah sampah organik, dan setelah diteliti masuk dalam kategori yang dibutuhkan Greenpeace,” ucap Mier.
Soal proses kerja, sampah organik dimasukkan ke dalam macerator untuk dipilah kemudian dilumatkan. Sampah nonorganik kecil, seperti plastik, kerikil, beling, pasir, dan jarum, dibuang. Sementara, sampah organik diolah melalui proses aerasi di dalam shearator. ”Kemudian, dilakukan fermentasi primer dan sekunder di dalam digester. Masuk ke dalam filter press, lalu lumpur dan cairan dipisahkan. Lumpur masuk ke dyer sedangkan cairan masuk ke settler. Proses terakhir, lumpur mengalami pelletizing, sedangkan cairan mengalami proses evaporasi,” demikian Mier Komara.
Akan tetapi, untuk menggunakan teknologi ini, pemerintah mesti merogoh kocek agak dalam. Soalnya, harga satu set ”pabrik” itu tak kurang dari Rp 225 miliar. ”Tapi, dalam 3 tahun lebih sedikit, modal yang dikeluarkan sudah bisa kembali. Masalah sampah selesai, kita mendapat keuntungan. Kan begitu? Namun, hingga kini, pemerintah sepertinya tidak tertarik menggunakan teknologi ini. Padahal, kami sudah menawarkannya sejak tahun 2002, jauh sebelum Leuwigajah longsor,” katanya.
Sebagai informasi, PD Kebersihan Kota Bandung berpendapatan Rp 28,5 miliar setiap tahun (dari retribusi dan kucuran dana pemerintah). Pendapatan tersebut kemudian dikurangi beragam biaya, seperti BBM, upah pegawai, dan biaya perawatan kendaraan. ”Untuk BBM, semula PD Kebersihan menganggarkan Rp 430 juta setiap bulan. Tapi, setelah kenaikan BBM yang mencapai 105%, biaya membengkak menjadi Rp 1,02 miliar,” ujar Sefrianus Yosef, Kepala Bagian Humas dan Hukum PD Kebersihan Kota Bandung, beberapa waktu lalu.
Pendapatan tersebut juga dipergunakan untuk mengupah 1.680 karyawan. Setiap bulan, untuk urusan ini, PD Kebersihan menghabiskan dana kurang lebih Rp 900 juta. Pengeluaran lainnya adalah untuk perawatan 77 unit kendaraan yang mayoritas berusia tua. Rata-rata keluaran tahun 1985.
Celakanya, pendapatan PD Kebersihan dari retribusi cenderung menurun, terutama untuk rumah tinggal. Hal itu berlangsung sejak PLN bekerja sama dengan kantor pos dan bank untuk pembayaran iuran penggunaan listrik. ”Soalnya, di sana, retribusi sampah tidak ditagih. Alhasil, dari 400.000 pelanggan listrik se-Kota Bandung, hanya 57% uang retribusi yang didapat. Jumlahnya bervariasi, Rp 2.500,00 hingga Rp 7.500,00, sesuai dengan pemakaian daya listrik. Ya, kira-kira Rp 560 jutaan, dapatlah setiap bulan,” demikian Yosef. (Hazmirullah/ ”PR”) docPRJune04,2006